“Daun yang jatuh tidak pernak membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tidak melawan. Mengikhlaskan semuanya.”
Kalimat ini hampir menyesakkan separuh dada, terbayang .. betapa ikhlasnya sang daun. Meski dijatuhkan oleh angin, daun tidak
pernah marah bahkan tumbuh lagi yang baru. Walau untuk tumbuh lagi, ia membutuhkan waktu dan prosesnya. Tapi semakin banyak yang jatuh
semakin banyak tumbuh yang baru. Tanpa melawan, mereka rela pergi dan rela tempatnya tergantikan. Begitulah seharusnya kita sebagai manusia, patuh pada ketentuan Sang Penguasa Kehidupan, tanpa melawan. Semakin melawan akan semakin sengsara untuk bertahan hidup. Sibuk mengelak, sibuk
mencari pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang terjadi, sibuk berkeluh kesah
atas segala kehilangan, sibuk mencari cara agar tetap bertahan meskipun waktu kita telah habis.



